Mahasiswa Telkom University Ciptakan Webapps Desain Canggih Berteknologi AI

Meta deskripsi:

Mahasiswa Teknik Fisika Telkom University punya segudang keahlian. Buktinya, M Fahlefi Ali Rafsanjani berhasil juara 2 Hackathon AI berkat kreasi webapps berteknologi AI. Keren!

Mahasiswa jurusan teknik fisika terkenal dengan kemampuannya berkaitan dengan instrumentasi dan kontrol. Namun, itu bukanlah satu-satunya keahlian yang dipunyai oleh mahasiswa teknik fisika di Indonesia. Mereka juga mampu membangun aplikasi  canggih dengan bekal keahlian bahasa pemrograman.

Hal ini dibuktikan oleh mahasiswa Teknik Fisika atau S1 Smart Science dan Technology Telkom University bernama M Fahlevi Ali Rafsanjani yang mempunyai keahlian tinggi dalam bidang pemrograman. Sebagai buktinya, Fahlevi berhasil memboyong gelar juara 2 di ajang Deakin AI Hackathon 2021, event internasional bertema artificial intelligence (AI).

Deakin AI Hackathon 2021 merupakan kompetisi hackathon yang berlangsung secara online, berlangsung pada 21 Agustus โ€“ 23 Agustus 2021 diselenggarakan oleh Deakin University, Australia yang berkolaborasi dengan Hacker Exchange (HEX).

Acara ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, termasuk di antaranya adalah mereka yang berasal dari Indonesia dan negara-negara di Amerika Latin. Selama mengikuti program, para peserta pun mendapatkan bimbingan dari para mentor dan berkesempatan memperoleh hadiah besar.

Cerita Mahasiswa Telkom University Ikut Serta dan Menang Juara 2 Deakin AI Hackathon 2021

Kompetisi Deakin AI Hackathon 2021 merupakan kesempatan besar bagi para peserta untuk belajar lebih jauh tentang pemanfaatan teknologi AI. Fahlevi pun mengikuti ajang tersebut dengan keinginan untuk meningkatkan kemampuannya dalam bidang pemrograman, khususnya yang berkaitan dengan AI.

Ajang hackathon ini menyertakan kehadiran mentor yang berasal dari berbagai negara. Ditambah lagi, acara tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak terbatas oleh mereka yang memiliki latar belakang bidang teknologi. Jadi, Fahlevi punya kesempatan besar untuk melakukan upgrade keahlian di acara ini.

Seperti halnya ajang hackathon lain, Deakin AI Hackathon berlangsung dalam waktu singkat, yakni 48 jam. Susunan acara dilakukan secara maraton, mulai dari upaya memunculkan ide, pitching & public speaking, market validation hack, dan yang terakhir adalah rapid prototyping & user interface design.

Di situ, Fahlevi pun bertemu dengan banyak peserta serta mentor. Dia pun mempunyai ide dan berhasil mewujudkan prototype sebuah webapps yang memudahkan siapa saja untuk mendesain tampilan aplikasi. Hal yang mengejutkan, Fahlevi muncul sebagai juara kedua berkat kreasinya tersebut.

Ide membangun webapps yang mampu mempermudah proses perancangan desain aplikasi tersebut merupakan wujud keinginan Fahlevi dalam membantu meningkatkan ekosistem startup di tanah air. Dia mempunyai harapan agar kreasi idenya tersebut dapat membantu para founder startup yang kesulitan dalam merancang perangkat lunak serta aplikasi mobile sendiri.

Webapps buatan Fahlevi bekerja dengan memanfaatkan fitur utama berupa image recognition serta recommender system. Kedua fitur utama itu berguna untuk membantu pengguna dalam mengatur user interface (UI) aplikasi berbasis Android serta iOS. Sistem pun akan secara otomatis memberi rekomendasi desain yang sesuai dengan UI.

Untuk memperoleh rekomendasi desain, pengguna tinggal memasukkan warna, font, serta shape yang diinginkan. Kalau data-data tersebut sudah didapatkan, maka sistem akan secara otomatis merekomendasikan desain yang cocok. Lewat cara penggunaan yang ringkas tersebut, proses pembuatan aplikasi oleh founder startup bisa berlangsung secara lebih praktis dan ringkas.

Keuntungan Menggunakan Webapps Desain Berteknologi AI

Website buatan mahasiswa S1 Smart Science dan Technology Fahlevi merupakan salah satu bentuk inovasi yang kreatif. Pencapaian Fahlevi pun jadi bukti nyata kalau mahasiswa S1 Smart Science dan Technology punya kapabilitas untuk memenangkan persaingan berkaitan dengan skill pemrograman, khususnya algoritma kecerdasan buatan. Terlebih lagi, pencapaian Fahlevi membuktikan kalau dirinya mampu bersaing di tingkat global.

Pemakaian teknologi AI dalam website desain kreasi Fahlevi pun memberi banyak keuntungan dibandingkan dengan proses desain manual. Kelebihan tersebut di antaranya adalah:

1. Menghemat Pengeluaran

Pekerjaan yang berhubungan dengan industri kreatif seperti mendesain UI biasanya memerlukan biaya besar, apalagi ketika Anda merekrut tenaga desainer berpengalaman. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan, terutama bagi founder startup yang mempunyai modal terbatas dalam pengembangan bisnisnya.

Problem tersebut dapat Anda atasi secara praktis lewat pemanfaatan teknologi AI pada webapps buatan Fahlevi. Teknologi kecerdasan buatan memungkinkan website tersebut memiliki kemampuan learning, reasoning, serta self correctionโ€”membuat webapps mampu menghasilkan desain yang tidak kalah keren dibandingkan desainer berpengalaman.

2. Bekerja Tanpa Henti

Kelebihan selanjutnya dari penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam webapps milik Fahlevi adalah kemampuannya dalam bekerja tanpa henti. Tidak seperti tenaga manusia, webapps berteknologi artificial intelligence tak memerlukan waktu istirahat. Jadi, webapps tersebut bisa dimanfaatkan untuk membantu proses desain UI selama 24 jam.

3. Proses Pengerjaan yang Cepat dan Praktis

Keuntungan selanjutnya yang bisa Anda dapatkan dari kreasi mahasiswa Jurusan S1 Smart Science dan Technology Telkom University ini adalah kecepatan proses pengerjaan. Hasil desain UI dapat Anda peroleh dalam waktu yang singkat. Kalau kecewa dengan hasilnya, Anda bisa melakukan revisi dengan melakukan input data yang berbeda.

4. Meningkatkan Alur Kerja

Pemanfaatan AI membuat pekerjaan yang perlu Anda selesaikan jadi lebih ringkas. Desain UI bisa Anda peroleh dengan cepat. Dengan begitu, founder startup dapat menjalankan proses ke tahapan selanjutnya. Misalnya, Anda dapat melakukan pengujian aplikasi atau meluncurkan aplikasi sehingga masyarakat umum bisa segera menggunakannya.

Hal yang perlu Anda ketahui, dunia startup memiliki ciri khas pada ekosistem kerja yang sangat dinamis. Oleh karena itu, founder startup memerlukan proses yang serba cepat untuk mengimbanginya. Menariknya lagi, fenomena inilah yang membuat startup mampu berkembang secara lebih cepat dibandingkan perusahaan konvensional.  

Kelebihan tersebut mampu membuat beban kerja founder startup jauh lebih ringan dibandingkan harus melakukannya proses desain UI secara manual. Menariknya lagi, webapps tersebut masih dalam tahap prototype. Artinya, Fahlevi masih akan terus melakukan pengembangan, baik berupa penambahan fitur atau peningkatan performa.

Ditambah lagi, Universitas Telkom merupakan perguruan tinggi ternama yang mempunyai fasilitas pendukung lengkap. Kelengkapan fasilitas tersebut menjadi modal penting bagi Fahlevi serta mahasiswa S1 Smart Science dan Technology lain untuk menciptakan kreasi yang lebih canggih dan bermanfaat untuk masyarakat.